Sunday, February 8, 2015

TRADISI UNIK MAULID ALA BAWEAN

TRADISI UNIK MAULID ALA BAWEAN
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mungkin sudah tidak asing lagi dikalangan kaum muslim diseluruh dunia apalagi di Indonesia tentunya, memperingati kelahiran nabi bagi kaum muslim merupakan kebanggaan tersendiri yang tidak akan pernah punah sampai akhir hayat nanti, banyak cara-cara masyarakat muslim mangapresiasikan bentuk kecintaan mereka terhadap nabi Muhammad SAW pada saat kelahiran nabi yang di kenal dengan maulid nabi.

            Di Bawean mempunyai cara tersendiri dalam memperingati maulid nabi, mungkin bisa dikatakan beda dan paling unik di dataran pulau Jawa ini, meskipun dalam cara memperingatinya dianggap berfoya-foya bagi penilaian orang yang di luar pulau bawean, maulid nabi mempunyai nomor urutan kedua setelah Hari Raya Idul Fitri dalam kemeriahan acaranya, jika di dataran jawa acara maulid nabi hanya di adakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal saja, tapi di Bawean beda, acaranya di mulai dai tanggal 9-30 Rabiul Awwal yang mana acara itu diadakan secara bergantian  disetiap desa, sekolah, langgar, mesjid, pesantren, dan tempat penting lainnya.
            Dikatakan unik dan berbeda dengan lainnya karena dalam merayakan acara maulid nabi di Bawean bukan hanya di hiasi dengan doa-doa dan membaca Dibaiyah atau Manaqiban saja, melainkan yang menjadi sangat spektakuler dalam acara maulid nabi adalah berkatnya atau dalam bahasa Bawean dinamaka angkaan bherkat molod, berkat maulid di Bawean bukan seperti didataran Jawa yang kebanyakan hanya nasi, lauk, dan buah saja, di Bawean berkat yang di bawa ke Masjid atau Musholla pada saat acaranya bisa berupa berbagai macam makanan khas dan buah di Bawean yang ditambah lagi dengan nasi dan lauk, alat dan kebutuhan dapur, serta makanan ringan buatan pabrik.
Yang paling unik lagi adalah tempat untuk menyimpan semua makanan yang akan dibawa ke Masjid tersebut, yang mana tempatnya terdiri dari timba atau baldi yang dipinggirnya tersebut di kasi pagar-pagar kecil dari bambu dan memanjang  keatas, diikat dengan tali Rafia yang kemudian pagar itu di lapisi dengan kertas kado yang indah, bisa juga tempat buat menyimpan makanan tersebut bukan hanya dalam bentuk timba yang dipagar saja, ada pula dalam bentuk kapal, mobil, lemari, dan banyak lagi bentuk-bentuk yang mereka buat, setelah jadi tempat itu maka semua makanan yang akan di simpan di dalamnya di masukkan dengan rapi hingga penuh keatas, jika yang membuatnya adalah dari kalangan orang yang elit  maka di dalam wadah berkat maulid tersebut isinya bisa berupa alat dapur dan barang-barang mewah, seperti blender, rice cocer, dan ada pula yang sampai memasukkan pershiasan ke dalamnya, aneh kan?.
Masing-masing rumah yang akan merayakan maulid biasanya membawa dua berkat, sedangkan untuk membagikan berkat tersebut banyak cara yang diantaranya: pertama ada yang menggunakan nomor, berkat yang masyarakat bawa dari rumahnya masing-masing di kasih nomor dan biasanya orang yang dianggap penting seperti tokoh masyarakat, penceramah, dan undangan dari luar desa maka akan di kasi nomor berkat yang lebih besar dan isinya lebih pantas untuk dipersembahkan, yang kedua dengan cara saling tukar menukar yang telah di sepakati oleh masing-masing warga dan untuk tokoh yang di anggap penting maka ada warga yang dianggap mampu merekalah yang akan memberinya, yang ketiga dengan cara memberi bendera nama, cara-cara itu tentunya sudah dipantau oleh paniti dan tim pelaksana.
Acara maulid buat masyarakat Bawean mengandung makna dan filosofi tersendiri yang telah di anut secara turun-temurun, yakni dengan cara merayakan maulid itu menunjukkan bukti kecintaan kepada nabi yang dicintainya yang hanya dirayakan setahun sekali, dan dengan cara seperti itu masyarakat diajarkan untuk saling berbagi dan menjaga kerukuna warga, acara seperti itu tidak membuat warga saling bertengkar ketika mereka tidak mendapat yang sepadan seperti yang mereka bawa dari rumahnya.
Masalah biaya memang tidak murah karna di Bawean semua bahan sandang dan pangan mengimport dari Jawa, maka dalam satu berkat paling tidak membutuhkan biaya paling sedikit sebesar 300,000 rupiah, dan ada juga yang biasanya biaya buat berkat sudah di tentukan oleh panitia acara maulid tersebut, begitulah acara maulid di Bawean yang sudah menjadi  budaya dan tradisi orang Bawean secara turun temurun sampai sekarang, jika ingin merubah tradisi itu yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan keadaan, mungkin sangat sulit dan membutuhkan waktu yang relative lama, tapi menurut saya itulah tradisi dan budaya, selagi masyarakat menerima dengan senang hati dan tidak merugikan Bangsa dan Negara maka tidak salah jika tradisi itu di pertahanka.

No comments:

Post a Comment