TRADISI UNIK MAULID ALA BAWEAN
Peringatan
Maulid Nabi Muhammad SAW mungkin sudah tidak asing lagi dikalangan kaum muslim
diseluruh dunia apalagi di Indonesia tentunya, memperingati kelahiran nabi bagi
kaum muslim merupakan kebanggaan tersendiri yang tidak akan pernah punah sampai
akhir hayat nanti, banyak cara-cara masyarakat muslim mangapresiasikan bentuk
kecintaan mereka terhadap nabi Muhammad SAW pada saat kelahiran nabi yang di
kenal dengan maulid nabi.
Di Bawean mempunyai cara tersendiri
dalam memperingati maulid nabi, mungkin bisa dikatakan beda dan paling unik di dataran
pulau Jawa ini, meskipun dalam cara memperingatinya dianggap berfoya-foya bagi
penilaian orang yang di luar pulau bawean, maulid nabi mempunyai nomor urutan
kedua setelah Hari Raya Idul Fitri dalam kemeriahan acaranya, jika di dataran
jawa acara maulid nabi hanya di adakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal saja, tapi
di Bawean beda, acaranya di mulai dai tanggal 9-30 Rabiul Awwal yang mana acara
itu diadakan secara bergantian disetiap desa,
sekolah, langgar, mesjid, pesantren, dan tempat penting lainnya.
Dikatakan unik dan berbeda dengan
lainnya karena dalam merayakan acara maulid nabi di Bawean bukan hanya di hiasi
dengan doa-doa dan membaca Dibaiyah atau Manaqiban saja, melainkan yang menjadi
sangat spektakuler dalam acara maulid nabi adalah berkatnya atau dalam bahasa
Bawean dinamaka angkaan bherkat molod, berkat
maulid di Bawean bukan seperti didataran Jawa yang kebanyakan hanya nasi, lauk,
dan buah saja, di Bawean berkat yang di bawa ke Masjid atau Musholla pada saat
acaranya bisa berupa berbagai macam makanan khas dan buah di Bawean yang
ditambah lagi dengan nasi dan lauk, alat dan kebutuhan dapur, serta makanan
ringan buatan pabrik.
Yang paling unik lagi adalah tempat untuk menyimpan semua makanan yang
akan dibawa ke Masjid tersebut, yang mana tempatnya terdiri dari timba atau
baldi yang dipinggirnya tersebut di kasi pagar-pagar kecil dari bambu dan
memanjang keatas, diikat dengan tali
Rafia yang kemudian pagar itu di lapisi dengan kertas kado yang indah, bisa
juga tempat buat menyimpan makanan tersebut bukan hanya dalam bentuk timba yang
dipagar saja, ada pula dalam bentuk kapal, mobil, lemari, dan banyak lagi
bentuk-bentuk yang mereka buat, setelah jadi tempat itu maka semua makanan yang
akan di simpan di dalamnya di masukkan dengan rapi hingga penuh keatas, jika
yang membuatnya adalah dari kalangan orang yang elit maka di dalam wadah
berkat maulid tersebut isinya bisa berupa alat dapur dan barang-barang mewah,
seperti blender, rice cocer, dan ada pula yang sampai memasukkan pershiasan ke
dalamnya, aneh kan?.
Masing-masing rumah yang akan merayakan maulid biasanya membawa dua
berkat, sedangkan untuk membagikan berkat tersebut banyak cara yang diantaranya:
pertama ada yang menggunakan nomor, berkat yang masyarakat bawa dari rumahnya masing-masing
di kasih nomor dan biasanya orang yang dianggap penting seperti tokoh
masyarakat, penceramah, dan undangan dari luar desa maka akan di kasi nomor
berkat yang lebih besar dan isinya lebih pantas untuk dipersembahkan, yang
kedua dengan cara saling tukar menukar yang telah di sepakati oleh
masing-masing warga dan untuk tokoh yang di anggap penting maka ada warga yang
dianggap mampu merekalah yang akan memberinya, yang ketiga dengan cara memberi
bendera nama, cara-cara itu tentunya sudah dipantau oleh paniti dan tim
pelaksana.
Acara maulid buat masyarakat Bawean mengandung makna dan filosofi
tersendiri yang telah di anut secara turun-temurun, yakni dengan cara merayakan
maulid itu menunjukkan bukti kecintaan kepada nabi yang dicintainya yang hanya dirayakan
setahun sekali, dan dengan cara seperti itu masyarakat diajarkan untuk saling
berbagi dan menjaga kerukuna warga, acara seperti itu tidak membuat warga
saling bertengkar ketika mereka tidak mendapat yang sepadan seperti yang mereka
bawa dari rumahnya.
Masalah
biaya memang tidak murah karna di Bawean semua bahan sandang dan pangan
mengimport dari Jawa, maka dalam satu berkat paling tidak membutuhkan biaya
paling sedikit sebesar 300,000 rupiah, dan ada juga yang biasanya biaya buat
berkat sudah di tentukan oleh panitia acara maulid tersebut, begitulah acara
maulid di Bawean yang sudah menjadi
budaya dan tradisi orang Bawean secara turun temurun sampai sekarang,
jika ingin merubah tradisi itu yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan
keadaan, mungkin sangat sulit dan membutuhkan waktu yang relative lama, tapi
menurut saya itulah tradisi dan budaya, selagi masyarakat menerima dengan
senang hati dan tidak merugikan Bangsa dan Negara maka tidak salah jika tradisi
itu di pertahanka.

No comments:
Post a Comment