Monday, December 22, 2014

MAKALAH ILMU KALAM “ AHLUSSUNAH WAL JAMAAH“

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 LATAR BELAKANG
Islam masuk ke Indonesia sejak zaman Khulafaur Rasyidin tepatnya pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Penyebaran Islam di Indonesia masuk melalui dua jalur utama yaitu Jalur Selatan yang bermadzhab Syafi’i (Arab, Yaman, India, Pakistan, Bangladesh, Malaka, Indonesia) dan Jalur Utara (Jalur Sutara) yang bermadzhab Hanafi (Turki, persia, Kazakhstan, Uzbekistan, Afganistan, Cina, Malaka, Indonesia). Penyebaran Islam semakin berhasil, khususnya di Pulau Jawa sejak abad ke-13 oleh Wali Sanga. Dari murid – murid Wali Sanga inilah kemudian secara turun – temurun menghasilkan Ulama – ulama besar di wilayah Nusantara seperti Syaikhuna Khoil Bangkalan (Madura), Syaikh Arsyad Al Banjari (Banjar, Kalimantan, Syaikh Yusuf Sulawesi, dan lain – lain.
Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.
Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah).
Selama kurun waktu berdirinya (1926) hingga sekitar tahun 1994, pengertian Aswaja tersebut bertahan di tubuh Nahdlatul Ulama. Baru pada sekitar pertengahan dekade 1990 tersebut, muncul gugatan yang mempertanyakan, tepatkah Aswaja dianut sebagai madzhab, atau lebih tepat dipergunakan dengan cara lain?

1.2  RUMUSAN MASLAH
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalahnya adalah
1.         Apa itu yang disebut ahlisunnah wal jama’ah?
2.         siapakah aliran-aliran ahli sunnah waljama’ah?
3.         uraian ajaran ajaran aswaja?
4.         uraian tentang doktrin-doktrin aswaja?
5.         metedologi pemikiran aswaja ?

1.3  MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari penulisan karya tulis ini adalah menyampaikan bagaimana sejarah atau pengertian ahlusunnah wal jama’ah itu di dalam kehidupan. Agar pembaca mengetahui keadaan aliran aliran di kehidupan nyata ini lebih-lebih ahlusunnah wal jama’ah.
Tujuan dari karya tulis ini adalah untuk menyampaikan bahwa ahlusunnah wal jama’ah adalah faham yang lurus dan baik untuk kemaslahatan ummat untuk di ikuti dan di jadikan suatu pedoman perjalanan hidup.













BAB II
PEMBAHASAN


2.1  PENGERTIAN AHLISUNNAH WAL JAMA’AH
 Ditinjau dari ilmu bahasa (lughot/etimologi), Ahlussunah Wal Jama’ah berasal dari kata-kata:
a.       Ahlu                : Kaum.keluarga atau golongan
b.      Assunnah        :
1)        Ucapan nabi muhammad  SAW
2)        Tingkah laku, kebiasaan, atau perbuatan nabi muhammad SAW
3)        Persetujuan atau sikap nabi muhammad SAW, mendiamkan ucapan atau tingkah laku seseorang pada zaman nabi.
c.       Wa                   : kata sambung yang berarti “dan”
d.      Al jama’ah       : Kumpulan atau kelompok
2.      Di tinjau dari segi istilah ( terminologi), Ahlussunah berasal dari hadits-hadits nabi SAW antara lain:
والذينفسمحمّدبيدهلتفترقأمتيعلىثلاثوسبعينفرقة, فواحدةفىالجنةوثنئانوسبعونفىالنار, قيل:منهميارسولالله؟قال:هماهلالسنةوالجماعة,(رواهالطبرنى)
Demi tuhan yang jiwa Muhammad ada dalam genggamanNya, umatku akan bercerai berai ke dalam 73 Golongan. Yang satu masuk syurga dan yang 72 masuk neraka. Ditanyakan:”siapakah mereka(golongan yang masuk surga itu), wahai Rosulullah?”. Beliau Menjawab: “mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”,(HR, Thabrani)
تفترقهذهالامةعلىثلاثوسبعينفرقةالناجيةمنهاواحدةوالبلقونهلكىقالوومنالناجية؟قالاهلالسنةوالجماعةقيلوماالسنةوالجماعة؟قالمااناعليهاليومواصحابي
Umat ini nantinya juga akan terpecah menjadi 73 sekte, satu yang selamat, yang lainnya dalam kerusakan. Sahabat bertanya,Siapa yang selamat?” Nabi menjawab: “Ahlus sunnah Wal Jama’ah”. Mereka bertanya kembali: “siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?” Jawab nabi:”Adalah apa yang aku dan sahabatku praktekkan hari ini”.
Dalam buku lain di jelaskan:”Ahlus sunnah Wal Jama’ah adalah golongan umat islam yang selalu berpegang teguh pada kitab allah ( al-qur’an) dan susunah rosul,serta para sahabat Nabi SAW, Melaksanakan petunjuk dari al-qur’an dan sunah rosul tersebut.
Faham atau aliran ASWAJA dalam bidang:
a.       Aqidah Islamiah, mengikuti faham atau madzab dari imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi
b.      Fiqih, mengikuti salah satu dari madzab yang empat, yaitu: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali
c.     Tasawuf, mengikuti thariqah dari Imam Abul Qosim Al Junaid Al Baghdadi, Imam Ghozali.
Sehingga apabila di ucapkan secara mutlak kata-kata ASWAJA maka kita tidak dapat menunjuk kecuali orang-orang tersebut di atas.
2.2   ALIRAN ALIRAN AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH
1.   Biografi Al-Asy’ari
Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Abu Al-Hasan Ali Bin Ismail bin Ishak bin Salim bin Isma’il bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, Al- Asy’ari lahir di Bashar pada tahun 260 H/875M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H/935M.
Menurut Ibn Asakir, ayah Al-Asyr’ari adalah seorang yang berfaham Ahlussunah dan ahli hadis. Ia wafat ketika Al-Asy’ary masih kecil. Sebelum wafat, ia berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya As-saji agar mendidik As-Sy’ary. Ibu As-Asy’Ari, sepeningal ayahnya, menikah lagi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Abu Ali Al- Jubba’i ( w. 303 H/915 M), ayah kandung abu Hasyim Al-Jubba’i (w. 321 H/932 M). Berkat didikan ayah tirinya itu, Al-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mu’tazilah. Ia sering mrngantikan Al- Jubba’i dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu’tazilah.
Beliau menganut faham mu’tazilah hanya sampai berumur 40 tahun. Setelah itu tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid bashroh bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya,menurut ibn asakir hal itu di latar belakangi karna beliau bermimpi bertemu nabi sebanyak 3 kali, pada malam ke-10, 20,dan 30 dalam bulan romadhon. Dalam mimpinya itu rosulullah memperingatkan agar meninggalkan paham mu’tazilah dan membela faham yang telah di riwayatkan beliau.
Ø  Doktrin-doktrin Teologi Al-Asyari
Pemikiran-pemikiran Al-Asy’ari yang paling terpenting adalah berikut ini:
a)      Tuhan dan Sifat-sifatnya
b)      Kebebasan dalam berkrhendak
c)      Akal dan Wahyu Dan kriteria Baik dan Buruk
d)     Qodimnya Al-Qur’an
e)      Melihat Allah
f)       Keadilan
g)      Kedudukan orang yang berdosa
2.      BIOGRAFI AL-MATURIDY
Abu Mansyur al-Maturidi Nama lengkapnya ialah Abu mansur Muhammad bin Muhammadbin Mahmud al-Hanafi al-Mutakallim al-Matu-ridi al-Samarkhandi.Beliau dilahirkan di Maturid, sebuah kota kecil di daerah samarkand, wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang di sebut Uzbekistan. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriah. Ia wafat pada tahun 333H/944 M. Gurunya dalam bidang fiqih dan teologi bernama Nasyr bin  Yahya Al-Balakhi. Ia wafat pada tahun 268H. Al-Maturidi hidup pada masa khalifah Al-Mutawakkil yang memerintah tahun 232-274/846-861 M.
Ø  Doktrin-doktrin Teologi Al-Maturidi
a) Akal dan Wahyu
b)      Perbuatan Manusia
c) Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan
d)       Sifat Tuhan
e) Melihat Tuhan
f)  Kalam Tuhan
g)       Perbuatan Manusia
h)      Pengutusan Rasul
i)   Pelaku Dosa Besar

2.3   AJARAN AJARAN AHALISUNNAH WAL JAMA’AH
  1.   Sifat Tuhan
Menurut mu’tazilah Tuhan tidak mempunyai sifat. Sebab jika tuhan mempunyai sifat, pasti sifat itu kekal seperti tuhan. Berkaitan dengan masalah tuhan Al-Maturidi dan Al-Asy’ari sependapat. Tapi walaupun begitu al-Asy’ari mengartikan sisat tuhan sebagai sesuatu yang bukan dzat, melainkan melekat pada dzat itu sendiri. Sedangkan al-Maturidi sifat tidak dikatakan esensiNYA dan bukan pula dari esensi NYA.
  2.    Melihat Tuhan di akhirat
Mu’tazilah berpendapat bahwa tuhan tidak bisa di lihat.surat al an’am 103. Menurut al Asy’ari manusia dapat melihat tuhan di akhirat sebagaimana arti lahir surat qiyamah 22-23. Al-Maturidi sependapat dengan Beliau. Jalan pikiran Al-Maturidi bahwa melihat Allah itu ihwal di Akhirat, dimana hanya ilmunya yang menentukan bagaimana cara dan keadannya.
 3.     Perbuatan dosa besar
Bahwa setiap orang mukmin tidak kekal di neraka di sepakati seluruh ulama islam, Menurut kaum mu’tazilah pembuat dasa besar yang tidak sempat bertaubat sebelum meninggal dunia tidak di pandang mukmin tapi tetap muslim. Menurut Maturidi dan Asy’ari hukumnya di serahkan kepada Allah, apakah dia diampuni,mendapat syafa’at nabi atau di siksa sesuai perbuatannya. Dan tidak kekal di neraka.
4.      Perbuatan Manusia
Mu’tazilah bahwa manusi itulah yangmenciptakan perbuatannya sendiri, dan bebas memilih yang baik dan yang buruk, karana segala sesuatunya akan di tanggung sendiri. Asy’ari manusia dalam kelemahannya bergantung pada kehendak dan kekuasaan tuhan. Maturidi sependapat dengan asy’ari.
5.      Perbuatan Allah
Orang-orang Asy’ariyah berpendapat bahwa Allah tidak di ketahuinya. Karna ia tidak bertanggung jawa terhadap apa yang di perbuatnya. Sedangkan manusia bertanggung jawab.Mu’tazilah, Allah berbuat karna ada tujuan maksud tertentu. Maturidi Allah itu suci (munazzah) dari sia-sia. Dan karna itu perbuatannya sesuai dengan tuntutan hikmah.
6.      Al-Qur’an
Mu’tazilah mengingkari adanya sifat bagi Allah yang namanya kalam, yang bebas dari dzat atau bukan dzat. Asy’ari bahwa al-Qur’an tidak berubah, tidak di ciptakan, bukan makhluk dan tidak baharu. Maturidi, Kalamullah itu adalah makna yang melekat pada dzat Allah, dan karna itu ia adalah salah satu sifat yang brhubungan dengan dzatnya.
7.      Kekuasaan mutlak tuhan dan keadilan tuhan


2.3  DOKTRIN DOKTRIN AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH
Bahwa ajaran islam itu terdiri dari 3 macam :
1.      Doktrin keislaman, yang digunakan untuk membimbing manusia selaku makhluk yang mempunyai nafsu
2.      Doktrin keimanan, yang digunakan manusia untuk membimbing manusia selaku makhluk yang mempunyai akal pikiran
3.      Doktrin keihsanan, yang digunakan untuk mmbimbing manusia selaku makhluk yang mempunyai budi pekerti /hati nurani
Ke-3 ajaran islam tersebut di namakan fitrah munazaah,sedangkan nafsu,fikiran dan hati nurani di namakan fitrah mukhalaqoh.

2.4  METODOLOGI PEMIKIRAN (MANHAJ AL-FIKR) ASWAJA
kita mencermati doktrin-diktrin paham ASWAJA, baik dalam aqidah(iman), Syari’at(islam), ataupun Akhlak (ihsan), maka bisa di dapati sebuah metodologo islam di antaranya:
1.      Tawasuth (moderat)
Taswuth adalah sikap tengah yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri dan mengambil solusi yang paling baik.
2.       Tawazun (berimbang)
Tawazun adalah  sikap berimbang dan harmons dalam mengintegrasikan dan mensinergikan dalil- dalil (pijakan hukum) pertimbangan – pertimbangan untuk memutuskan sebuah keputusan dan kebijakan prinsip menhindari yang serba kanan dan kiri.



3.      Ta’adul ( netral dan adil)
Adalah sikap adil dan netral dalam melihat /menimbang, menyikapi dan menyesesaikan segala permasalahan. Apbala dalam realitasnya terjadi tafdlul (keungulan) maka keadilan mununtut perbedan dan pengutamaan (tafdllil)
ياايّهااّلذينأمنواكونواقوّامِينللّهشهداءباالقسطولايحرمنّكمشنأنقومٍعَلَىاَلاَّتعِدلوااعدلواهواَقْربللتَّقوى
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan ( kebenaran) karena Allah, menjadi saksi  dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah  karna adil itu lebih dekat kepada taqwa.(Al-Maidah:9)

4.      Tasamuh
Sikap  toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan, perbedaan dan keanekaragaman, baik dalam pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, suku, bangsa, agama, tradisi budaya dll.
ياَايّهاَالنَّاسانّاخلقناكممنذَكرٍوَاُنثَىوجعلناَكُمشُعُوبًاوقبَائلُلِتَعَارفُواانّأكرمكمعِنداللهِاتقَاكُم,
 Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.(QS. Alhujurat:13)

2.5  TUJUAN AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
1.      Mengamalkan Ajaran Rosulullah SAW semurni-murninya.
2.      Mengikuti jejak para sahabat dalam mengambil keputusan-keputusan suatu perkarayang tidak di temukan dalam Al-qur’an dan Al-hadits.
3.         Mengedepankan Akhlaul karimah dalam setiap tindakannya.
4.         Khusus untuk golongan ASWAJA di Indonesia, ingin menjadikan bangsa indonesia, bangsa yang bermaartabat di mata dunia juga di hadapan Allah SWT
5.        Ingin menjadi khairul ummah dalam ridho Allah SWT




BAB III
KESIMPULAN
 
 
3.1  KESIMPULAN
 
Ahlus sunnah Wal Jama’ah adalah golongan umat islam yang selalu berpegang teguh pada kitab allah ( al-qur’an) dan susunah rosul,serta para sahabat Nabi SAW, Melaksanakan petunjuk dari al-qur’an dan sunah rosul tersebut.
A.    Aliran-aliran ASWAJA:aliran Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidi
B.     Ajaran ASWAJA:Sifat Tuhan, Melihat Tuhan Di akhirat, Perbuatan dosa, besar, Perbuatan manusia,Perbuatan Allah, dll
C.     Doktrin ASWAJA: Doktrin Keislaman, keihsanan dan ke imanan.
D.    Metodologi pemikiran ASWAJA;Tasawuth, Tawazun, Ta’adul’ Tasamuh.
E.     Tujuannya untuk mengamalkan Ajaran Rosulullah dan mengikuti jejak para sahabat serta menjadi khoirul umah dalam ridho allah SWT



DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................

Misrawi Zuhairi, Hasyim Asy’ary : Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan,
            [Jakarta: penerbit buku kompas, Januari 2010]
Abdusshomad Muhyiddin, Hujjah NU: Akidah, Amaliyah, Tradisi,
            [Surabaya: Khalista, Juni 2008]
Abbas Siradjuddin, I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah,

            [Jakarta: pustaka tarbiyah baru, Januari 2008] 

No comments:

Post a Comment