BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sebagian besar orang mengatakan bahwa
filsafat itu sangat susah dan sulit, namun demikian orang-orang tersebut tidak
menyadari bahwa keseharian mereka di isi dengan filsafat, atau bisa dikatakan
mereka telah berfilsafat dalam kehidupannya. Pemikiran seperti ini didasari,
karena pemahaman mereka tentang filsafat masih sangat sedikit dan bahkan belum
mengetahui tentang filsafat itu apa.
Orang-orang terdahulu hingga sekarang, yang
mencintai filsafat atau para filosof mengartikan filsafat yaitu mencintai kebijaksanaan,
sehingga ketika berfilsafat berarti mereka telah mencintai kebijaksanaan, namun
bukan berarti merasa dirinya sudah benar. Cinta kebijaksaan berarti akan selalu
mencari bagaimana mendapatkan kebijaksaan itu, karena hal yang kita cintai tentulah
ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut.
Sejarah tentang filsafat ini membawa kita
untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pemikiran-pemikiran para filosof
terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui pemikiran tersebut, membawa kita
untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang pemikiran filosof-filosof itu.
Perlunya
mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk merangsang pikiran kita
untuk bisa lebih berkembang lagi dan lebih luas lagi. Dari sekian banyak
pemikiran tersebut pemakalah akan mengangkat tentang pemikiran filosof Plato
yakni tentang dunia ide. Pemikiran Plato ini sangat menarik untuk di bahas,
karena sebagaimana kita ketahui bahwa Plato dikenal sebagai bapak Filsafat.
Sehingga karena julukan tersebut sangat menarik, pemakalah dalam makalah ini
akan lebih banyak membahas tentang filosof dan pemikirannya tersebut. Atas
dasar pemikiran Plato inilah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini,
karena sangat menarik untuk dikaji apalagi dengan julukan dia sebagai bapak
filsafat dan juga dikenal sebagai filosof pertama kali yang menuangkan
pemikiran-pemikirannya dalam sebuah tulisan atau sebuah buku. Sejarah filosof
dari Thales sampai Socrates belum pernah terdengar bahwa mereka menuangkan
pemikiran mereka ke dalam sebuah tulisan, karena mereka lebih bersifat
dialektika. Namun, setelah masuk zamannya Plato, kemudian pemikiran-pemikiran
filsafat itu pun dibukukan, sehingga ada sebuah pedoman atau bahan untuk
generasi berikutnya yang ingin mengkaji tentang pemikiran para filosof terdahulu.
Di
dalam makalah ini tentu akan lebih banyak kita temukan tentang Plato dan pemikiran
nya, karena yang menjadi titik acuan pemakalah adalah plato dan pemikirannya.
Namun, walau pun sedikit menyinggung tentang pemikiran sebelum Plato
diantaranya Socrates yakni guru dari Plato sendiri, dimana tolak acuan
pemikiran dari Plato adalah pemikiran gurunya sendiri walau pun terdapat juga
sedikit perbedaan. Plato juga sedikit mengambil pemikiran dari filosof sebelum
gurunya seperti Heraclitus dan filosof-filosof yunani lainnya.
1.2 Rumusan
Makalah
Ada pun masalah-masalah yang kami angkat di
dalam makalah ini sebagai berikut :
Ø
Bagaimana kehidupan
Plato?
Ø
Gagasan apa yang di
paparkan oleh Plato di masa hidupnya?
Ø
Bagaimana dunia idea
yang dimaksud Plato?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Setiap pembuatan sesuatu tentulah
memiliki maksud ataupun tujuan, seperti pembuatan mobil yang bertujuan untuk
sebagai alat transportasi. Begitu pula halnya pembuatan makalah ini juga
memiliki beberapa tujuan yakni selain untuk memenuhi tugas dari dosen
kami, juga sekaligus bertujuan untuk menambah wawasan kita tentang filosof dan
pemikirannya, khususnya filosof Plato.
Dengan rumusan masalah yang akan kami
angkat diatas, maka kami pemakalah dapat mengambil tujuan sebagai berikut:
Ø Kita
dapat mengenal lebih jauh tentang filosof yang memiliki julukan bapak filsafat
yakni Plato.
Ø Kita
dapat mengetahui lebih jauh lagi tentang pemikiran Plato serta keterkaitannya
dengan pemikiran filosof sebelumnya.
Ø Kita
dapat menambah pengetahuan kita tentang dasar pemikiran Plato.
Dengan beberapa tujuan di atas kita dapat
menyimpulkan bahwa betapa pentingnya pengkajian tentang bapak filsafat ini,
serta mengkaji pemikirannya yang fenomenal dari dulu hingga sekarang. Walaupun
di dalam makalah singkat ini hanya menggambarkan secara umum dan tidak terlalu
specifik, namun pemakalah berusaha untuk menyajikannya selengkap yang pemakalah
bisa.
1.4 Metode Penelitian
Pembuatan makalah ini menggunakan
metode kuantitatif yakni mencari referensi dari buku- buku yang menjelaskan
tentang Plato dan pemikirannya. Namun, juga ditambah dengan diskusi dengan
orang-orang yang telah memiliki pengetahuan tentang pembahasan ini. Sehingga dengan
cara itu kami dapat mengumpulkan semuanya, baik itu dari buku-buku maupun hasil
diskusi tersebut, kemudian menjadikannya sebuah makalah sederhana.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah tentang Plato
Plato dilahirkan sekitar tahun
428/427 SM di Athena. Dan meninggal di sana pada tahun 347 SM. Dalam usia 80 tahun.
Dia berasal dari keluarga bangsawan. Salon (abad ke-6 SM), sang pemberi hukum
bagi Athena, adalah salah satu kakek dari sisi ibunya. Sementara dari pihak
ayahnya, ia masih keturunan raja terkakhir Athena. Plato memiliki dua saudara (
Adimantes dan Glaukon ) serta satu saudari (Potone). Saat Plato lahir, Athena
merupakan sebuah Kota yang paling berkuasa di Yunani dengan sistem demokrasi.
Kekuatan militer dan maritimnya nomor satu, kultur intelektual dan artistiknya
jauh mengatasi polis-polis lain di Yunani. Dia masih mudah ketika Athena kalah
perang, dan dia menunjuk sistem demokrasilah penyebab kekalahan itu.
Pelajaran yang diperolehnya dimasa
kecilnya. Selain dari pelajaran umum, ialah menggambar dan melukis, belajar
musik dan puisi. Ketika beranjak dewasa ia sudah pandai membuat karangan yang
bersajak.
Pada masa anak-anaknya Plato
mendapat pendidikan dari guru-guru filosofi. pelajaran filosofi mula-mula
diperolehnya dari Kratylos. Kratylos dahulunya adalah murid Herakleitos. Sejak
berumur 20 tahun Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pelajaran itulah yang
memberi kepuasaan baginya. Pengaruh Socrates makin hari makin mendalam padanya.
Ia menjadi murid Socrates yang setia. Sampai pada akhir hidupnya Socrates tetap
menjadi pujaanya.
Plato mempunyai kedudukan yang
istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu, seni dan
filosofi. Pandangan yang dalam dan abstrak sekali pun dapat dilukiskannya
dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof sebelumnya yang
dapat menandinginya dalam hal ini. Ketika Socrates meninggal, ia sangat sedih
dan menamakan dirinya seorang anak yang kehilangan bapak. Tak lama
sesudah Socrates meninggal, Plato pergi dari Athena. Itulah permulaan ia
mengembara dua belas tahun lamanya, dari tahun 399 SM-387 SM. Mula-mula ia
pergi ke Megara, tempat Euklides mengajarkan filosofinya. Di ceritakan bahwa di
Megara ia mengarang beberapa dialog, yang mengenai berbagai macam pengertian
dalam masalah hidup, berdasarkan ajaran Socrates.
Di Megara ia pergi ke Kyrena, di
mana ia memperdalam pengetahuannya tentang matematik pada seorang guru yang
bernama Theodoros. Di sana juga ia mengajarkan filosofi dan mengarang
buku-buku. Plato juga sempat di penjara dan dijual sebagai budak. Tetapi nasib
yang baik bagi Plato, di pasar budak ia dikenal oleh seorang bekas muridnya,
Annikeris dan ditebusnya. Kemudian peristiwa itu diketahui oleh sahabat-sahabat
dan pengikut-pengikut Plato di Athena. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang
untuk mengganti harga penebus yang dibayar oleh Annikeris. Tetapi dia menolak
penggantian itu dengan berkata “Bukan tuan-tuan saja yang mempunyai hak untuk
memelihara Plato.” Akhirnya uang yang terkumpul itu dipergunakan untuk membeli
sebidang tanah yang kemudian diserahkan kepada Plato untuk dijadikan lingkungan
sekolah tempat ia mengajarkan filosofinya. Tempat itu diberi nama “Akademia”.
Di situlah Plato, sejak berumur 40 tahun, pada tahun 387 SM. Sampai meninggal nya
dalam usia 80 tahun, mengajarkan filosofinya dan mengarang tulisan-tulisan yang
tersohor sepanjang masa.
2.2
Karya-karya Plato
Sepanjang sejarah, karya-karya
Plato diedit dan disalin ulang. Meski tanpa mesin cetak, para penulis dengan
tekun menyalin ulang teks-teks Plato. Dan berkat tradisi salinan tangan
Bizantium kita dapat merasakan karya-karya Plato sampai saat ini. Berikut ini
adalah karya-karya Plato yang oleh para ahli dianggap otentik:
v Masa
Muda ( 399-390 SM)
|
Hippias
meizon (minor) Ion, Laches, Xarmides, Protagoras, Euthypron, Hippias elatton
( mainor), Apologia Sokratous, Kriton.
|
v Masa
Muda (399-390 SM)
|
Gorgias,
Menon, Euthydemos, Lysis, menexenos, Kratylos.
Karya
ini dibuat saat Akademia sudah berdiri. Disini masih ada pengaruh pemikiran
Socrates, tetapi ide-ide Plato mulai keluar seperti pengetahuan lewat anamnesis dan
pentingnya pengetahuan matematis.
|
v Dewasa
( 385-370 SM)
|
Phaidon,
Symposion, Politeria, Phaidros, Republica, Phaidon membahas
konsep jiwa dan kekekalannya, Symposion membahas eros, politeria
beridealisasi tentang pembaharuan polis dan prinsip-prinsip kebaikan politik,
sementara Phaidros berupa kritik atas retorika yang dihubungkan
dengan teori tentang jiwa.
|
v Masa
Tua (370-348 SM)
|
Theaitetos,
Parmenides, Sophistes, Politikos,Timaios, Kritias, Philebos, Nomoi, Surat
VII.
Theaitetos
memberikan definisi pengetahuan serta mengkritik konsepsi pengetahuan dari
Herakleitos dan Protagoras, Sophistes dan Parmenides membahas ontologi dan
epistimologi khas Platonisian dalam debatnya dengan Eleatisme, Philebos
bebicara tentang hidup yang baik, Timaios adalah fisikanya Plato, dan Nomoi
memberikan sistem Politik paling komplit yang pernah dibuat oleh seorang
filsuf.
|
Ajaran Plato yakni teori tentang
ide-ide, teori ini sebagian bersifat logis, sebagian lagi metafisis. Bagian
logisnya berkaitan dengan makna kata-kata umum. Plato memberikan penjelasan
yang jelas mengenai doktrin ide. Plato menjelaskan bahwa, jika ada sejumlah
individu memiliki nama yang sama, mereka tentunya juga memiliki satu “ide” atau
“forma” bersama. Sebagai contoh, meskipun terdapat banyak ranjang, sebetulnya
hanya ada satu “ide” atau “forma” ranjang.
Di sepanjang filsafat Plato terjadi
perpaduan antar intelek dan mistisisme sebagaimana terdapat dalam Phytagoreasnisme,
namun pada puncaknya jelas bahwa mistisisme lebih diutamakan.
Doktrin plato tentang ide-ide
mengandung sekian masalah yang cukup jelas, namun dibalik doktrin itu pun
menyumbangkan kemajuan penting dalam filsafat. Sebab ini teori pertama yang
menekankan masalah tentang universal.
2.3
Gagasan Plato
A. Ajaran tentang ide
Salah satu pemikiran Plato yang
sangat fenomenal yakni ajaran tentang ide-ide. Ajaran tentang ide-ide ini merupakan
inti dasar seluruh filsafat Plato. Namun, arti ide yang dimaksud oleh Plato
berbeda dengan pengertian orang-orang modern sekarang, yang hanya mengartikan
bahwa kata ide adalah suatu gagasan atau tanggapan yang hanya terdapat dalam
pemikiran saja. Sehingga orang-orang akan menganggap bahwa ide merupakan suatu
yang bersifat subjektif belaka. Plato mengartikan kata ide itu merupakan suatu
yang objektif. Menurut Plato ada ide-ide yang terlepas dari subjek yang
berpikir. Beliau mengatakan bahwa semua yang ada di entitas ini semuanya ada di
alam ide tersebut, yakni alam tersebut di analogikan seperti cetakan kue
dan kue-kuenya itu adalah entitas-entitas ini.
Menurut Plato ide-ide tidak
bergantung pada pemikiran, sebaliknya pemikiran bergantung
pada ide-ide. Justru karena ada ide-ide yang berdiri sendiri. Pemikiran
kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain dari pada menaruh perhatian kepada
ide-ide itu.
v Adanya
ide-ide
Munculnya pemikiran Plato tentang
ide-ide adalah terinspirasi dari gurunya yakni Socrates. Dimana Socrates
dikisahkan bahwa beliau berusaha mencari defenisi-defenisi, ia tidak puas
dengan menyebut satu persatu perbuatan-perbuatan yang adil atau
tindakan-tindakan yang berani. Ia ingin menyatakan apa keadilan atau keberanian
itu sendiri, atau bisa dikatakan bahwa Socrates mencoba mencari hakikat atau
esensi keadilan dan keutamaan-keutamaan lain tersebut. Karena pemikiran gurunya
ini lah Plato kemudian meneruskan usaha gurunya tersebut lebih jauh lagi.
Menurut dia esensi itu mempunyai realitas, terlepas dari segala perbuatan
kongkret. Ide keadilan, ide keberanian dan ide-ide lain itu ada.
Ada pun asal usul yang lain
tentang ajaran Plato tentang ide-ide ialah berkaitan dengan ilmu pasti. Sebagaimana
kita ketahui bahwa ilmu pasti sangat di utamakan dalam akademi Plato dan di
bidang ini Plato terpengaruh oleh kaum Pythagorean. Menurut Plato ilmu pasti
yang berbicara tentang segitiga, namun segitiga yang dimaksud itu bukan
segitiga yang kongkret, melainkan segitiga yang ideal, maka Plato menarik
kesimpulan bahwa segitiga itu memiliki realitas juga, biar pun tidak dapat
ditangkap oleh indra. Tidak mungkin bahwa ilmu pasti membahas sesuatu yang
tidak ada! Jadi, mesti terdapat suatu ide ”segitiga”. Segitiga yang digambarkan
pada papan tulis hanya merupakan tiruan tak sempurna saja dari ide “segitiga”.
Namun contoh lain yang sama dengan
konsep pada segitiga tersebut, seperti ” kata bagus”, begitu banyak yang boleh
dikatakan bagus : kain bagus, patung bagus, rumah bagus, dan lain sebagainya.
Sehelai kain tidak disebut bagus karena itu kain, sebab terdapat juga kain yang
jelek. Yang menyebabkan kain itu disebut bagus ialah ide tentang bagus itu.
Selain kain tersebut masih banyak yang bisa dikatakan bagus, karena ide tentang
bagus merupakan bagus itu sendiri secara sempurna, tidak tercampur dengan yang
lain. Plato menyebut ini dengan kata-kata Yunani yaitu idea serta eidos dan
juga kata morphe yang berarti bentuk.
v Dua
dunia
Menurut Plato realitas itu terbagi
menjadi dua atau dunia menjadi dua yakni:
v Dunia
indrawi
Realitas yang pertama ini yakni
adalah yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada panca indra,
atau bisa dikatakan relaitas yang pertama yang dimaksud Plato adalah sesuatu
yang dapat dijangkau oleh indra seperti bunga, pohon dan lain-lain. Pada taraf
ini harus diakui bahwa semuanya tetap berada dalam perubahan. Bunga yang kini
bagus keesokan harinya sudah layu, lagi pula dunia indrawi ditandai oleh
pluralitas. Sehingga bunga tadi, masih ada banyak hal yang bagus juga.
v Dunia
ide
Disamping ada dunia indrawi yang
senantiasa berubah, menurut Plato ada juga sebuah dunia yang tidak pernah
berubah yakni disebut dunia ideal atau dunia yang terdiri atas ide. Dalam dunia
ideal tidak sama sekali yang pernah berubah. Semua ide bersifat abadi dan tak
terubahkan. Dalam dunia ideal tidak ada banyak hal yang bagus karena hanya
terdapat satu ide “ yang bagus”. Demikian pula dengan ide-ide yang lain yang
bersifat abadi dan sempurna.
Namun, ketika
Plato mengatakan bahwa dunia itu ada yakni dunia indrawi dan dunia ideal,
kemudian apa keterkaitan antara kedua dengan dunia ini tersebut? Ide-ide sama
sekali tidak di pengaruhi oleh benda-benda jasmani. Lingkaran yang digambarkan
pada papan tulis lalu di hapus lagi, sama sekali tidak mempengaruhi ide “lingkaran”.
Tetapi Ide-ide mendasar dan menyebabkan benda-benda jasmani.
Hubungan
antara ide-ide dan realitas jasmani bersifat seperti yang ada di atas, sehingga
benda-benda jasmani tidak bisa tanpa pendasaran oleh Ide-ide itu. Plato
mengungkapkan hubungan itu dengan tiga cara:
v Pertama-tama
ia mengatakan bahwa Ide itu hadir dalam benda-benda konkret. Tetapi dengan
ide itu sendiri tidak dikurangi sedikit pun juga.
v Dengan
cara lain, ia mengatakan bahwa benda kongkret mengambil bagian ide. Dengan
demikian Plato mengintroduksikan “partisipasi” (metexis) ke dalam filsafat.
Tiap-tiap benda jasmani berpartisipasi pada satu atau beberapa ide. Kalau kita
mengambil sebagai contoh: satu bunga bagus, maka bunga itu mengambil bagian
dalam ide “bunga”,”bagus” dan “satu”. Tetapi, partisipasi itu tidak mengurangi
ide bersangkutan.
v Plato
mengatakan juga bahwa ide merupakan model atau contoh (paradigma) bagi
benda-benda konkrit. Benda-benda konkrit itu merupakan gambaran tak sempurna
yang menyerupai model tersebut.
Menurut Plato seperti yang di atas bahwa hubungan antara kedua dunia itu adalah
demikian seperti yang diatas, yakni bahwa ide-ide dari dunia ide itu hadir
dalam benda yang kongkrit, contohnya ide manusia berada pada tiap manusia dan
sebagainya, dan sebaliknya benda-benda itu berpartisipasi dengan idea-ideanya,
artinya mengambil bagian ide-ideanya, bukan hanya dalam satu idea saja,
melainkan dapat juga lebih (umpamanya: bunga bagus, berpartisipasi dengan idea
bunga dan idea bagus). Dengan demikian idea-idea itu berfungsi sebagai model
atau contoh benda-benda yang kita amati di dalam dunia ini.
Menurut Plato di dalam dunia ide tiada kejamakan, yakni berarti bahwa “ yang
baik” hanya lah satu saja, dan seterusnya, sehingga tiada bermacam-macam “ yang
baik”. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa dunia ide ini hanya terdapat satu
ide saja. Ada banyak ide. Oleh karena itu, dilihat dari segi lain harus juga di
katakan bahwa ada kejamakan, ada bermacam-macam ide seperi ide manusia, binatang,
dan lain-lainnya. Idea yang dihubung-hubungkan dengan idea yang lain contohnya
ide bunga yang dikaitkan dengan ide bagus, idea api dihubungkan dengan ide
panas, dan sebagainya. Hubungan antara kedua ini disebut koinonia (
persekutuan). Di dalam dunia ide itu juga ada hirarki, contohnya ide anjing
termasuk ide binatang menyusui, termasuk ide binatang, termasuk ide makhluk,
dan seterusnya. Segala ide itu jikalau disusun secara hirarkis memiliki ide
“yang baik” sebagai puncaknya yang menyinari segala ide. Plato sangat
menganjurkan untuk tidak menganggap dunia sebagai jahat. Dunia justru harus di
atur oleh manusia.
Salah satu dasar dari munculnya dua dunia menurut Plato ini adalah untuk
mencoba menyatukan pemikiran dua filosof sebelumnya yakni heraklitus, yang
meyakini tentang pergerakan atau perubahan dan menolak tentang pemberhentian
atau meyakini realitas itu senantiasa berubah, sedangkan permenides meyakini
bahwa tentang pemberhentian dan menolak segala gagasan tentang gerak atau
meyakini suatu kesatuan yang tidak dibeda-bedakan. Kemudian Plato mencoba
menggabungkannya dengan menganalisis bahwa ada sesuatu yang senantiasa berubah,
namun ada juga sesuatu yang bersifat tetap tidak berubah dan kekal. Sehingga
munculnya pemikirannya yaitu dua dunia, yakni dunia pertama itu adalah dunia
yang senantiasa terdapat perubahan, dimana tidak sesuatu yang sempurna, dunia
yang dapat diamati dan dapat diindra, dan dunia yang kedua disebut dunia ide,
dimana tidak ada perubahan, tiada kejamakan, dan bersifat kekal.
B. Ajaran tentang Jiwa
Plato menganggap jiwa sebagai pusat
atau inti sari keperibadian manusia. Dalam anggapannya tentang jiwa, Plato
tidak saja dipengaruhi oleh Socrates, tetapi juga oleh orfisme dan madzhab
Pythagorean. Dengan mempergunakan semua unsur itu, Plato menciptakan suatu
ajaran tentang jiwa yang berhubungan erat dengan pendiriannya mengenai ide-ide.
v Kebakaan
jiwa
Plato meyakini dengan teguh bahwa
jiwa manusia bersifat baka. Keyakinan ini bersangkut paut dengan ajarannya
tentang ide-ide. Dalam dialog-dialognya plato sering kali merumuskan
argumen-argumen yang mendukung pendapat-pendapatnya tentang kebakaan jiwa.
Salah satu argumennya adalah kesamaan yang terdapat antara jiwa dan
ide-ide.
Dalam dialog Phaidros terdapat
argumen lain yang bermaksud membuktikn kebakaan jiwa. Disini Plato menganggap
jiwa sebagai prinsip yang menggerakkan dirinya sendiri dan oleh karenya juga
dapat menggerakan badan. Plato tidak menjelaskan secara detail mengenai
kebakaan jiwa. Dia hanya memberikan mitos yang melukiskan nasib jiwa sesudah
kematian badan.
v Mengenal
sama dengan mengingat
Bagi Plato jiwa itu bukan saja bersifat
baka, dalam artian bahwa jiwa tidak akan mati pada saat kematian badan,
melainkan juga kekal, karena sudah ada sebelum hidup di bumi ini. Sebelum
bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami suatu Pra eksistensi, dimana ia
memandang ide-ide. Plato berpendapat bahwa pada ketika itu tidak semua jiwa
melihat hal yang sama, berdasarkan pendiriannya mengenai Pra Eksistensi jiwa,
Plato merancang suatu teori tentang pengenalan. Bagi Plato pengenalan pada
pokoknya tidak lain dari pada pengingatan akan ide-ide yang telah dilihat
pada waktu Pra Eksistensi itu.
v Bagian-bagian
jiwa
Jiwa terdiri dari 3’’bagian’’. Kata
“ bagian” ini harus dipahami sebagai “fungsi”, sebab Plato sama sekali tidak
memaksudkan bahwa jiwa mempunyai keluasan yang dapat dibagi-bagi. Pendirian
Plato tentang tiga fungsi jiwa tentu merupakan kemajuan besar dalam pandangan
filsafat tentang manusia. Bagian pertama ialah bagian rasional ( to logistikon
). Bagian kedua ialah “bagian keberanian” (to thymoaeides). Dan bagian ketiga
ialah “bagian keinginan” (to epithymetikon). “ bagian keberanian “ dapat
dibandingkan dengan kehendak, sedangkan “ bagian keinginan” menunjukkan hawa
nafsu.
Plato menghubungkan ketiga bagian
jiwa masing-masing dengan salah satu keutamaan tertentu. Bagian keinginan
mempunyai pengendalian diri ( sophorosyne ) sebagai keutamaan khusus. Untuk “
bagian keberanian” keutamaan yang spesifik (andreia). Dan “bagian rasional”
dikaitkan dengan keutamaan kebijaksanaan (phronesis atau sophia).
Dikatakan bahwa karena hukum lah
sehingga jiwa di penjarakan dalam tubuh. Secara mitologisnya kejadian ini
diuraikan dengan pengibaratan jiwa adalah laksana sebuah kereta yang bersais (fungsi
rasional), yang di tarik oleh dua kuda bersayap, yaitu kuda kebenaran, yang
lari keatas, ke dunia ide, dan kuda keinginan atau nafsu, yang lari ke bawah,
ke dunia gejala. Dalam tarik-menarik itu akhirnya nafsu lah yang menang,
sehingga kereta itu jatuh ke dunia gejala dan dipenjarakanlah jiwa.
Agar
supaya jiwa dapat dilepaskan dari penjaranya, orang harus mendapatkan
pengetahuan, yang menjadikan orang dapat melihat ide-ide, melihat ke atas. Jiwa
yang di dalam ini berusaha mendapatkan pengetahuan itu kelak setelah orang
mati, jiwa akan menikmati kebahagiaan melihat ide-ide, seperti yang telah dia
alami sebelum dipenjarakan di dalam tubuh. Menurut Plato bahwa ada
praeksistensi jiwa dan jiwa tidak dapat mati. Hidup di dunia bersifat sementara
saja, sekalipun demikian manusia begitu terpikat kepada dunia gejala yang
dapat diamati, sehingga sukar baginya untuk naik ke dunia ide. Hanya orang yang
benar-benar mau mengerahkan segala tenaganyalah yang akan berhasil. Dalam
kenyataan hanya sedikit orang yang berhasil, karena masyarakat di sekitarnya
tidak dapat mengerti perbuatan orang bijak yang mencari kebenaran dan berusaha
keras untuk menahan orang bijak di dunia gejala ini.
Dengan
kenyataan masyarakat yang seperti itu maka Plato menguraikannya dalam sebuah
mite, yaitu mite gua. Manusia dilukiskan sebagi orang-orang tawanan yang
berderet di belenggu di tengah-tengah sebuah gua, dengan muka yang dihadapkan
ke dinding gua, membelakangi lobang gua. Di belakang tawanan itu ada api
unggun. Di antara api unggun dan para tawanan itu ada banyak budak yang lalu
lalang kesana kemari sambil memikul beban yang berat. Bayangan mereka tampak
pada dinding yang dilihat para tawanan tadi. Oleh karena para tawanan hidupnya
hanya melihat bayangan yang ada pada dinding gua itu saja, maka mengira bahwa
itu lah kenyataan hidup. Ketika seorang di lepaskan dari belenggunya dan
diperkenankan melihat ke belakang, bahkan di luar gua, ia tahu, bahwa yang
selam ini dilihat hanyalah bayangan di luar gua, bukan kenyataan hidup, dan bahwa
kenyataan hidup jauh lebih indah daripada bayangan itu. Ia kembali menceritakan
hal itu kepada teman-temannya para tawanan, akan tetapi mereka tidak mau
mendengarkannya, bahkan orang itu di bunuhnya.
C. Ajaran tentang Negara
Dikatakan dalam buku-buku yang
menjelaskan tentang Plato, sebagian besar membahas tentang pemikiran-pemikiran
Plato dibandingkan sejarah beliau. Disamping Plato menjelaskan tentang
ajaran-ajaran tentang ide dan jiwa, namun Plato juga mengeluarkan pemikiran
yang berkaitan dengan ketata negaraan. Plato membahas tentang sebuah negara
yang ideal yakni disebutkan bahwa puncak pemikiran Plato adalah pemikiran
tentang negara, yang tertera dalam bukunya polites dan nomoi.
Pemikirannya tentang negara ini adalah untuk upaya memperbaiki keadaan negara
yang telah rusak dan buruk.
Di athena pada waktu itu
memiliki suatu sistem negara yang buruk menurut Plato, sehingga mendorong
beliau untuk membuat suatu konsep yang bisa memperbaiki konsep negara yang
buruk itu. Konsepnya tentang negara yang dikeluarkan oleh Plato yakni konsep
negara yang di dalamnya terkait etika dan teorinya tentang negara yang ideal.
Konsep etika yang dikemukakan oleh Plato seperti halnya konsep etika yang
dikeluarkan socrates gurunya sendiri, yakni tujuan hidup manusia adalah hidup
yang baik (eudamonia atau well-being). Akan tetapi untuk hidup yang baik tidak
mungkin dilakukan tanpa di dalam negara. Alasannya, karena manusia mempunyai
kodrat yakni makhluk yang sosial dan di dalam polis (negara). Sehingga
untuk mendapatkan hidup yang baik harus di dalam negara yang baik. Dan
sebaliknya, negara yang jelek atau buruk tidak mungkin menjadikan para warganya
hidup dengan baik.
Menurut Plato, untuk membangun sebuah
negara yang ideal diperlukan sebuah konsep tentang negara yang baik.
Menurutnya, negara yang ideal harus terdapat tiga golongan yang menjadi bagian
terpenting dalam sebuah negara yakni:
v Golongan
yang tertinggi, terdiri dari orang-orang yang memerintah yakni seorang filosof.
v Golongan
pelengkap atau menengah yakni yang terdiri dari para prajurit, yang bertugas
untuk menjaga keamanan negaradan menjaga ketaatan para warganya.
v Golongan
terendah atau golongan rakyat biasa, yakni yang terdiri para petani, pedagang,
tukang, yang bertugas untuk memikul ekonomi negara.
Gambaran Plato tentang negara di
ilustrasikan dengan bagian tubuh manusia seperti di bawah ini:
Tubuh
|
Jiwa
|
Sifat
|
Negara
|
Kepala
|
Akal
|
Kebijaksanaan
|
Pemimpin
|
Dada
|
Kehendak
|
Keberanian
|
Pelengkap
|
Perut
|
Nafsu
|
Kesopanan
|
Pekerja
|
Plato menganalogikan sebuah
negara yang dibangun dengan cara persis dengan tubuh manusia yang terdiri dari
tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut, sedangkan negara mempunyai pemimpin,
pembantu atau pelengkap, dan pekerja. Sebagaimana manusia yang hidup sehat dan
selaras mempertahankan keseimbangan dan kesederhaan, begitu pun pada negara
yang baik, yang ditandai dengan adanya kesadaran setiap orang akan tempat
mereka masing-masing.
Menurut Plato terciptanya
negara yang baik tergantung pada siapa yang memerintah, jika akal yang
memerintah sebagaimana kepala mengatur tubuh, maka filosoflah yang harus
mengatur masyarakat, sehingga dia mengatakan bahwa negara yang baik tidak akan
pernah ada apabila filosof belum menjadi pemimpin di negara tersebut.
Sebuah negara haruslah
memiliki bentuk pemrintahan yang sesuai dengan keadaan yang nyata. Apabila
sebuah negara telah mempunyai undang-undang dasar, maka bentuk pemerintahan
yang tepat adalah monarki. Yang terburuk adalah bentuk pemerintahan demokrasi.
Sedangkan apabila suatu negara yang belum mempunyai undang-undang dasar, maka
bentuk pemerintahan yang paling tepat adalah demokrasi, dan yang paling buruk
adalah monarki, konsep tentang negara ini tertera dalam politeia (tata negara).
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Plato lahir pada tahun 427/428 SM di Athena. Plato merupakan murid
kesayangan Socrates. Beliau dikenal sebagai bapak filsafat Barat, karena
Beliaulah orang yang pertama kali membukukan pemikiran-pemikiran filsafat.
Diantaranya: Phaidon, Symposion, Politeria, Phaidros, Republica
Dll.
Diantara semua gagasan plato ada tiga gagasan yang paling terkenal
yakni: Ajaran tentang ide, yang meliputi gagasannya tentang dualisme. Ajaran
tentang Jiwa yang meliputi pembagian jiwa yakni Akal ( yang meliputi sifat
kebijaksanaan ), kehendak (yang meliputi sifat keberanian), nafsu (yang
meliputi sifat kesopanan). Ajaran tentang negara yakni yang mencakup tiga
golongan. Yag pertama, Pemimpin (filosof), yang kedua yaitu pelengkap atau
pembantu ( yang meliputi para prajurit yang bertugas untuk mengamankan negara.
Yang ke tiga yaitu golongan pekerja ( yang meliputi rakyat biasa petani yang
bertugas membantu jalannya Ekonomi Negara.
Daftar
Pustaka
K. Bertens “sejarah filsafat Yunani”,Yogyakarta:
KANISIUS,1999
Hendrik jan papar.Pengantar Filsafat,Yoyakarta:
KANISIUS, 1996
Gaarder Jostein.Dunia sophie,Bandung:
PT Mizan purtaka, 2012
Lavine.Petualangan filsafat dari
socrates ke Sartre.Yogyakarta: penerbit Jendela, 2002
Russell Bertrand.Sejarah filsafat
Barat.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002
Achmadi Asmoro.Filsafat umum.Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada,2003
Hadiwijono Harun “sari sejarah
filsafat barat” Yogyakarta, KANISIUS,1980
No comments:
Post a Comment