Jember Punya Tanoker
Ketika
banyak media memberitakan tentang kekerasan terhadap anak-anak, maka Tanoker
sebaliknya, menyuguhkan keceriaan anak-anak. Jika anda mengaku orang Jember,
maka Tanoker tidak asing terdengar di telinga anda. Ya, Tanoker adalah sebuah
kampung wisata belajar dan berkarya didaerah perbukitan Ledokombo, Jember. Tanoker
berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Dulunya, Ledokombo terkenal
sebagai desa dengan tingkat kemiskinan tertinggi, pengangguran dan sarang
preman yang mengakibatkan anak-anak di desa tersebut kehilangan kebahagiaannya.
Lewat
tangan Suporahardjo dan Farha Ciciek mereka membangun kebanggaan para warga
desa Ledokombo atas desa dimana mereka tinggal. Khususnya untuk anak-anak, yang
dalam bahasa mereka “generasi penerus bangsa, harapan dunia dimanapun mereka
berada.” Anak-anak bertanggung jawab pada masa depan negara. Dan kita, para
orang dewasa, berhutang pengetahuan untuk dibagi pada mereka.
Kegiatan
di Komunitas belajar Tanoker beragam, mulai dari permainan tradisional, ilmu pengetahuan,
kesenian, dan menghasilkan karya. Kegiatan di Komunitas Belajar Tanoker ini
dibentuk sesuai dengan keinginan dan bakat anak-anak sendiri.
Permainan
tradisional dan juga digunakan sebagai ikon Tanoker adalah Egrang. Egrang
adalah galah panjang yang di bagian bawahnya terdapat tumpuan untuk kaki dan
jarak antara tumpuan dengan tanah diukur sesuai dengan pemakainya. Egrang
memiliki makna keseimbangan, keseimbangan antara sang pencipta dan manusia,
keseimbangan peran suami sekaligus ayah, peran istri sekaligus ibu dan
keseimbangan anak-anak dalam hak dan kewajiban. Dengan egrang anak-anak
diajarkan untuk selalu meredam ego, fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai,
dan selalu berhati-hati, karena kalau tidak mereka saat itu juga akan terjatuh
dari egrang.
Permainan
lainnya yang tak kalah serunya adalah sepak bola dilapangan berlumpur yang
dinamakan polo lumpur. Siapapun itu akan tertawa gembira ketika permainan ini
dimainkan, cara bermainnya seperti sepak bola, yang membedakannya ketika tidak
ada yang menangkap bola, maka mereka harus menari dengan musik dangdut. Lewat
permainan ini, yang tadinya kita tidak saling kenal menjadi semakin akrab, yang
tidak percaya diri menjadi percaya diri, yang takut kotor menjadi suka kotor.
Semua tumpah jadi satu, dari berbagai ras dan suku untuk saling berinteraksi
menjalin persahabatan baru.
Komunitas
Tanoker ini sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Seperti setiap minggu pagi, di Komunitas Belajar Tanoker
diselenggarakan kegiatan Minggu Pagi Ceria. Mereka belajar matematika dan
Bahasa Inggris. Dua pelajaran yang di sekolah senantiasa menjadi momok bagi
para siswa. Teknik yang diajarkan tentunya berbeda, anak-anak bebas menentukan
pelajaran apa yang ingin mereka pelajari. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini
membuat anak-anak ceria, karena konsep Minggu Pagi Ceria ini adalah belajar
sambil bermain.
Mereka
juga belajar banyak bahasa, bahasa asing dan bahasa daerah. Sehingga ketika
mereka kedatangan tamu, mereka mengucapakan selamat datang menggunakan bahasa
yang disesuaikan dengan bahasa tamu tersebut. Ciciek mengatakan harapannya
bahwa dengan mempelajari banyak bahasa siapa tahu anak-anak dari Ledokombo ini
nantinya bisa belajar keluar negeri.
Anak-anak
di komunitas belajar Tanoker ini juga diajarkan berbagai macam kesenian.
Seperti musik, tari-tarian dan drama. Umumnya mereka diperkenalkan dengan
kesenian dari daerah mereka sendiri. Seperti musik, mereka sangat pandai
memainkan alat musik yang bejenis perkusi. Alat musik perkusi disebut pula alat
musik pukul atau tabuh karena menghasilkan suara dengan di pukul atau di tabuh.
Festival musik perkusi biasa dipamerkan anak-anak Tanoker pada hari-hari
tertentu.
Selain
musik, tari-tarian dan drama juga tak kalah menarik untuk dipelajari. Komunitas
ini akan menggabungkan musik, tari-tarian dan drama untuk di pentaskan, tentu
saja tidak ketinggalan mengikutsertakan permainan egrang didalamnya. Beberapa
kali anak-anak komunitas Tanoker ini mengelar festival egrang yang didalamnya
sebagian besar mengangkat sejarah seni.
Komunitas
Tanoker ini bukan hanya mempelajari banyak pengetahuan maupun keterampilan,
namun mereka juga mempraktekkannya dan menghasilkan banyak karya. Anak-anak dan
para orang tua pun sangat antusias mempelajarinya. Pada tahun 2014 lalu, Ibu-ibu
Tanoker menunjukkan hasil karya mereka yang dipamerkan di alun-alun kota Jember
dalam rangka Jember Fashion Carnaval (JFC). Aneka kerajinan dipamerkan seperti
kerajinan berbahan tekstile (dompet, tempat pensil, dompet uang koin, tas
laptop, dan tas seminar), kerajinan berbahan kayu (peralatan dapur dari batok
kelapa dan miniatur orang bermain egrang dari kayu), juga aneka bros dan kalung
dari manik-manik dan bebatuan. Tidak lupa, mereka juga memamerkan dua pasang
egrang, bukan Tanoker namanya kalau tidak ada egrang didalamnya.
Komunitas Tanoker ini
berhasil mencuri hati pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli lagi dengan
anak-anak. Desa kecil dan terletak di atas bukit ini mampu mengubah kehidupan
kelam mereka dengan semangat menyatukan kekuatan baru untuk membangun Indonesia
menjadi lebih baik lagi. Dengan semboyan
“Bersahabat-Bermain-Bergembira-Belajar-Berkarya” Komunitas Tanoker ini
mengangkat nilai kehidupan yang penuh dengan makna. Mereka mengajarkan kita
bagaimana merawat cagar budaya, berani melangkah dan takut akan menyerah. Jika
anda datang ke Jember, maka jangan lupa bahwa Jember punya Tanoker dengan
segala keragaman sosial dan budayanya.

No comments:
Post a Comment