Sunday, February 8, 2015

Jember Punya Tanoker

Jember Punya Tanoker
Ketika banyak media memberitakan tentang kekerasan terhadap anak-anak, maka Tanoker sebaliknya, menyuguhkan keceriaan anak-anak. Jika anda mengaku orang Jember, maka Tanoker tidak asing terdengar di telinga anda. Ya, Tanoker adalah sebuah kampung wisata belajar dan berkarya didaerah perbukitan Ledokombo, Jember. Tanoker berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Dulunya, Ledokombo terkenal sebagai desa dengan tingkat kemiskinan tertinggi, pengangguran dan sarang preman yang mengakibatkan anak-anak di desa tersebut kehilangan kebahagiaannya.

Lewat tangan Suporahardjo dan Farha Ciciek mereka membangun kebanggaan para warga desa Ledokombo atas desa dimana mereka tinggal. Khususnya untuk anak-anak, yang dalam bahasa mereka “generasi penerus bangsa, harapan dunia dimanapun mereka berada.” Anak-anak bertanggung jawab pada masa depan negara. Dan kita, para orang dewasa, berhutang pengetahuan untuk dibagi pada mereka.
Kegiatan di Komunitas belajar Tanoker beragam, mulai dari permainan tradisional, ilmu pengetahuan, kesenian, dan menghasilkan karya. Kegiatan di Komunitas Belajar Tanoker ini dibentuk sesuai dengan keinginan dan bakat anak-anak sendiri.
Permainan tradisional dan juga digunakan sebagai ikon Tanoker adalah Egrang. Egrang adalah galah panjang yang di bagian bawahnya terdapat tumpuan untuk kaki dan jarak antara tumpuan dengan tanah diukur sesuai dengan pemakainya. Egrang memiliki makna keseimbangan, keseimbangan antara sang pencipta dan manusia, keseimbangan peran suami sekaligus ayah, peran istri sekaligus ibu dan keseimbangan anak-anak dalam hak dan kewajiban. Dengan egrang anak-anak diajarkan untuk selalu meredam ego, fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai, dan selalu berhati-hati, karena kalau tidak mereka saat itu juga akan terjatuh dari egrang.
Permainan lainnya yang tak kalah serunya adalah sepak bola dilapangan berlumpur yang dinamakan polo lumpur. Siapapun itu akan tertawa gembira ketika permainan ini dimainkan, cara bermainnya seperti sepak bola, yang membedakannya ketika tidak ada yang menangkap bola, maka mereka harus menari dengan musik dangdut. Lewat permainan ini, yang tadinya kita tidak saling kenal menjadi semakin akrab, yang tidak percaya diri menjadi percaya diri, yang takut kotor menjadi suka kotor. Semua tumpah jadi satu, dari berbagai ras dan suku untuk saling berinteraksi menjalin persahabatan baru.
Komunitas Tanoker ini sangat peduli dengan ilmu pengetahuan. Seperti setiap minggu pagi, di Komunitas Belajar Tanoker diselenggarakan kegiatan Minggu Pagi Ceria. Mereka belajar matematika dan Bahasa Inggris. Dua pelajaran yang di sekolah senantiasa menjadi momok bagi para siswa. Teknik yang diajarkan tentunya berbeda, anak-anak bebas menentukan pelajaran apa yang ingin mereka pelajari. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini membuat anak-anak ceria, karena konsep Minggu Pagi Ceria ini adalah belajar sambil bermain.
Mereka juga belajar banyak bahasa, bahasa asing dan bahasa daerah. Sehingga ketika mereka kedatangan tamu, mereka mengucapakan selamat datang menggunakan bahasa yang disesuaikan dengan bahasa tamu tersebut. Ciciek mengatakan harapannya bahwa dengan mempelajari banyak bahasa siapa tahu anak-anak dari Ledokombo ini nantinya bisa belajar keluar negeri.
Anak-anak di komunitas belajar Tanoker ini juga diajarkan berbagai macam kesenian. Seperti musik, tari-tarian dan drama. Umumnya mereka diperkenalkan dengan kesenian dari daerah mereka sendiri. Seperti musik, mereka sangat pandai memainkan alat musik yang bejenis perkusi. Alat musik perkusi disebut pula alat musik pukul atau tabuh karena menghasilkan suara dengan di pukul atau di tabuh. Festival musik perkusi biasa dipamerkan anak-anak Tanoker pada hari-hari tertentu.
Selain musik, tari-tarian dan drama juga tak kalah menarik untuk dipelajari. Komunitas ini akan menggabungkan musik, tari-tarian dan drama untuk di pentaskan, tentu saja tidak ketinggalan mengikutsertakan permainan egrang didalamnya. Beberapa kali anak-anak komunitas Tanoker ini mengelar festival egrang yang didalamnya sebagian besar mengangkat sejarah seni.
Komunitas Tanoker ini bukan hanya mempelajari banyak pengetahuan maupun keterampilan, namun mereka juga mempraktekkannya dan menghasilkan banyak karya. Anak-anak dan para orang tua pun sangat antusias mempelajarinya. Pada tahun 2014 lalu, Ibu-ibu Tanoker menunjukkan hasil karya mereka yang dipamerkan di alun-alun kota Jember dalam rangka Jember Fashion Carnaval (JFC). Aneka kerajinan dipamerkan seperti kerajinan berbahan tekstile (dompet, tempat pensil, dompet uang koin, tas laptop, dan tas seminar), kerajinan berbahan kayu (peralatan dapur dari batok kelapa dan miniatur orang bermain egrang dari kayu), juga aneka bros dan kalung dari manik-manik dan bebatuan. Tidak lupa, mereka juga memamerkan dua pasang egrang, bukan Tanoker namanya kalau tidak ada egrang didalamnya.
Komunitas Tanoker ini berhasil mencuri hati pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli lagi dengan anak-anak. Desa kecil dan terletak di atas bukit ini mampu mengubah kehidupan kelam mereka dengan semangat menyatukan kekuatan baru untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. Dengan semboyan “Bersahabat-Bermain-Bergembira-Belajar-Berkarya” Komunitas Tanoker ini mengangkat nilai kehidupan yang penuh dengan makna. Mereka mengajarkan kita bagaimana merawat cagar budaya, berani melangkah dan takut akan menyerah. Jika anda datang ke Jember, maka jangan lupa bahwa Jember punya Tanoker dengan segala keragaman sosial dan budayanya.

No comments:

Post a Comment